Penelitian SiNergi PPNP dan CERI Telusuri Pengetahuan Lokal "Profesor Kopi" di Tyyana Coffee, Tapanuli Selatan
Tapanuli Selatan, 3 Juni 2026 – Tim Penelitian SiNergi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) yang diketuai oleh Prof. Dr. Rince Alfia Fadri, S.ST., M.Biomed., beserta tim Prof. Dr. Novizar Nazir dari Universitas Andalas, Prof. Dr. Edi Syafri dan Dr. Mimi Harini dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh serta Dr. Ir. Mulianti dari Universitas Negeri Padang, didampingi tim peneliti Coffee Education Research Institute (CERI), melakukan kunjungan lapangan ke Tyyana Coffee yang berlokasi di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari penelitian mengenai sistem ketertelusuran (traceability) rantai pasok kopi sekaligus pendokumentasian praktik budidaya dan pengolahan kopi berbasis pengalaman lapangan.
Di lokasi tersebut, tim peneliti berdiskusi langsung dengan Abdulwahid Harahap, sosok yang dikenal luas sebagai "Profesor Kopi" atau "Dokter Kopi" di wilayah Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan. Julukan tersebut lahir dari dedikasinya yang telah berlangsung lebih dari dua dekade dalam mempelajari kopi secara menyeluruh, mulai dari karakteristik tanah, teknik budidaya, pengolahan pascapanen, hingga evaluasi mutu melalui cupping test.
"Kalau ingin memahami kopi, jangan hanya melihat buahnya. Kita harus memahami tanahnya, tanamannya, prosesnya, hingga rasa yang dihasilkan di dalam cangkir," ujar Abdulwahid Harahap.
Berawal dari Keinginan Memajukan Petani Kopi
Perjalanan Abdulwahid sebagai pegiat kopi dimulai pada tahun 2008. Saat itu ia memiliki satu tujuan utama, yaitu meningkatkan kapasitas petani kopi melalui pendampingan dan pembelajaran berbasis ilmu pengetahuan. Kesempatan tersebut diperolehnya melalui program kerja sama dengan investor asal Amerika Serikat yang mendampingi pengembangan kopi di Indonesia. Selama sekitar dua tahun, ia bersama para petani mempelajari berbagai teknik budidaya kopi modern dan mengembangkan lebih dari 900 pohon kopi sebagai media pembelajaran di lapangan.
Setelah program tersebut berakhir pada tahun 2010, Abdulwahid melanjutkan perjalanannya dengan mendalami pengolahan kopi. Pada tahun 2011 ia mulai memproduksi kopi sebagai minuman, kemudian pada periode 2012–2013 mulai memahami konsep specialty coffee dan menikmati kopi tanpa tambahan gula. "Saat kita memahami karakter kopi yang baik, kita bisa menikmati manis alami yang dimilikinya tanpa perlu menambahkan gula," tuturnya. Seiring perjalanan waktu, pengalaman tersebut mengantarkannya menjadi salah satu pelopor perkembangan kopi spesialti di Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan.
Mengubah Pola Pikir Petani Menjadi Tantangan Terbesar
Menurut Abdulwahid, tantangan utama dalam pengembangan kopi bukanlah cuaca maupun serangan hama, melainkan mengubah pola pikir petani agar terus mau belajar dan meningkatkan kualitas. Ia menjelaskan bahwa berbagai gangguan tanaman seperti jamur upas maupun penyakit tanaman lainnya masih dapat diantisipasi melalui penerapan teknik budidaya yang tepat. Namun tanpa perubahan pola pikir, peningkatan kualitas kopi akan sulit dicapai. Selain itu, ia mengingatkan bahwa setiap pasar memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga petani tidak perlu terpaku pada satu standar harga. "Yang terpenting adalah menghasilkan kopi dengan kualitas terbaik. Ketika kualitas meningkat, pasar akan datang dengan sendirinya," katanya.
Dari Merakit Alat Sendiri hingga Menganalisis Tanah Secara Tradisional
Keterbatasan fasilitas pada masa awal tidak menyurutkan semangat Abdulwahid dalam mengembangkan kopi. Karena belum memiliki modal untuk membeli peralatan pengolahan, ia merancang dan membuat sendiri berbagai alat sederhana yang digunakan dalam proses pascapanen. Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah kebiasaannya menganalisis kondisi tanah secara tradisional. Sebelum alat ukur pH mudah diperoleh, ia mempelajari karakter tanah secara langsung berdasarkan pengalaman lapangan.
Menurutnya, hasil pengamatan tersebut sering kali tidak jauh berbeda dengan hasil pengukuran menggunakan alat modern. Ia juga memiliki kebiasaan unik yang masih dilakukan hingga sekarang, yakni mengelilingi kebun setiap pagi untuk mengamati sekaligus "berkomunikasi" dengan tanaman kopi.
Filosofi Tyyana Coffee: Keterbatasan Bukanlah Batas
Dalam mengembangkan Tyyana Coffee, Abdulwahid memegang teguh sebuah filosofi sederhana namun bermakna.
"Keterbatasan belum tentu membuat kita menjadi terbatas."
Baginya, merawat tanaman kopi membutuhkan kesabaran, perhatian, dan kasih sayang sebagaimana seseorang merawat keluarganya. Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi proses.
"Jangan pernah ingin merasakan manisnya hidup sebelum merasakan pahitnya perjuangan. Apa pun pekerjaan kita, nikmati prosesnya, pahami ilmunya, maka hasil yang baik akan mengikuti."
Menjaga Kualitas dari Kebun hingga Cangkir
Dalam praktik budidaya, Abdulwahid menargetkan setiap batang kopi mampu menghasilkan sekitar 3 kilogram green bean. Menurutnya, kopi Arabika ideal dibudidayakan pada ketinggian 850–900 meter di atas permukaan laut agar mampu menghasilkan cita rasa optimal. Ia juga menjelaskan perbedaan bentuk fisik antara biji Arabika dan Robusta. Menurutnya, biji Arabika memiliki bentuk yang lebih lonjong dengan garis tengah yang melengkung sehingga ia mengibaratkannya sebagai "gadis cantik", sedangkan Robusta berbentuk lebih bulat dengan garis tengah yang lurus.
Sebelum teknologi sortasi berkembang seperti saat ini, proses seleksi biji kopi dilakukan secara manual menggunakan cahaya lampu pada malam hari. "Kalau ada biji yang memantulkan cahaya dari dalam seperti batu akik, biasanya kualitasnya kurang baik sehingga harus dipisahkan," kenangnya.
Pengetahuan Lokal Menjadi Bagian Penting Penelitian SiNergi PPNP
Ketua Tim Penelitian SiNergi PPNP, Prof. Dr. Rince Alfia Fadri, S.ST., M.Biomed., menyampaikan bahwa pengalaman panjang Abdulwahid Harahap merupakan bentuk pengetahuan lokal yang memiliki nilai ilmiah tinggi. Menurutnya, penelitian mengenai ketertelusuran rantai pasok kopi tidak hanya mendokumentasikan alur distribusi produk, tetapi juga menghimpun pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik yang berkembang di tingkat petani maupun pelaku usaha.
"Pengalaman empiris yang dimiliki para pelaku kopi merupakan aset penting bagi pengembangan industri kopi Indonesia. Kolaborasi antara akademisi, petani, dan pelaku usaha akan menghasilkan sistem ketertelusuran yang tidak hanya transparan, tetapi juga mampu mendokumentasikan praktik budidaya dan pengolahan kopi yang berkelanjutan," ujar Prof. Rince.
Melalui kunjungan ini, Tim Penelitian SiNergi PPNP bersama Coffee Education Research Institute (CERI) berharap pengetahuan yang dimiliki para pelaku kopi seperti Abdulwahid Harahap dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda dalam mengembangkan industri kopi Indonesia yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan.